Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 01 April 2012

Mati bisu

Aku terjebak dalam gerombolan jiwa-jiwa yang terbungkam
Mayat-mayat penasaran hidup dalam dendam
Menagih janji yang kian lama didustai

Dibawah angsana nyinyir nyanyian manis kudengar
Meninabobokan mayat-mayat hidup
Tidur dalam pesta pora dansa
Menari menyanyi diatas riuh hijau angsana

Jumat, 09 Maret 2012

Penantian Percuma

Lihatlah kesana kawan
Wajah pucat yang kian lama menjadi nanar

Lihatlah!

Pandangannya yang mengacuh jauh ke depan
Kabut tebal yang tak sedikitpun bercelah

Lihatlah kawan!

Dalam duduknya ia termangu panjang
Menanti bilur kabut menghilang
Sekali waktu ia berkhayal tentang indahnya taman berkabut
Yang tak sekali pula ia lihat dimatanya

Lihatlah kawan!

Ia duduk hingga tua
Menanti khayalan tanpa rangkaian penggapaian
Membatu bersama usangnya bayangan yang makin berkabut



Tidakkah ia tau nan sadar
Di sisi kiri dan kanannya
Telah hadir kurcaci kurcaci kecil
Yang saling menaiki satu sama lain
Mencoba mencari celah kabut panjang

Hendakkah ia menoleh kawan?
Apakah ia malu dengan keriput yang kian lama menampakkan tuanya
Tubuhnya yang gagah tegap termakan hembus waktu
Dan ia hanya terduduk lesu

Kurcaci itu lebih pintar?
Apakah benar yang gagah terkalahkan olehnya?
Hingga kini,
Ia setia menua bersama khayalan senjanya.

Rabu, 01 Februari 2012

LuKeLuh

Piluku berkeluh
Keluhku tak berpeluh
Keluhku pilu
Lupa tak peluh


Lukaku pilu
Keluh tak laku
Kaku Kaku
Luka Kaku piluku
Suka Suka
Tak Suka keluh
Duka Duka
Dukaku peluh

Kontemporer permainan bunyi..

Minggu, 08 Januari 2012

Senyum Merah Putih

Liburan panjang yang segera berakhir ini tiba-tiba mengingatkanku pada masa ketika aku masih setia dengan seragam merah putihku. Tak tahu mengapa aku dengan tak sengaja mengingatnya, mungkin karena terlalu banyak waktu senggang saat liburan menghampiriku. Yah untuk mengisi waktu luang ini tak ada salahnya jika saya menuangkan sedikit kisah merah putih saya.

Saya di masa merah putih sangatlah berbeda dengan di masa abu-abu saat ini. Jika saat ini saya lebih dikenal dengan sosok akhwat yang tak banyak bicara dengan orang lain jika tak ada perlu dan tak pernah mencoba untuk berbuat konyol seperti masa SD saya.

Kamis, 15 Desember 2011

Danau Lumpur

Danau itu seperti lumpur dari kejauhan
Hanya warna gelap yang memancar diatas air mati
Tak kulihat lagi warna yang dulu pernah kusaksikan
Hanya ular, kerbau, kambing yang berlarian di tepinya
Diantara kegelapan hutan, malam dan mata yang rabun
Aku melihatmu dari jalan tol yang melayang diatasmu
Seperti sebuah mimpi yang akan hilang sebentar lagi
Oleh gelap total tanpa lampu-lampu dan kunang-kunang
Apakah itu sunyi yang meninggalkan luka tanyamu
Sambil kau memeluk lumpur dihatiku
Di tengah danau hanya badai api yang berpusar
Entah darimana datangnya
Dari bumi atau dari angkasa
Bersama ledakan-ledakan waktu
Tak perlu kau tafsirkan lagi
Kita hanya bisa mengingat masa lalu
Tanpa berani membenahi
Karena kenangan adalah nyeri, duri dan karma
Yang akan terbalas nanti setelah janji ditepati
Ketika kau duduk di tepi jurang
Angin senja yang jahat menjambakmu
Kau tercebur dalam danau
Tubuhmu basah dan kotor
Dengan apa harus kau sucikan lagi
Lumpur lalu memelukmu
Dan kau menciumnya


S.Yoga

Jumat, 09 Desember 2011

Drama Air Tanah

Air,
Kau hujam tubuh ringkih ini dengan tetes kesegaranmu
Kau masuki celahku dan kau diam di sana
Menyejukkanku dari matahari yang lama buatku hampir mati
Air,
Kau datang bagai nyanyian surgawi
Dengan melodi rintikmu
Seraya mengajakku menari-nari
Menyambut hari baru penuh kesegaran
Dan berpaling dari kesengsaraan
Air,
Tapi tak lama lagi kau akan pergi
Meninggalkan lantunan melodi
Dan tarian-tarian sunyi
Air,
Kau terhasut mentari
Kau memercayainya hingga kau tinggal tubuh ini
Air,
Selamanya aku hanya tempat singgahmu
Menuntunmu menuju dermagamu dan
Aku hanya mampu mendekap insan dalam
Keabadian tanpamu.


Tanah pada Air
Sajak kecil di 23:44 WIB

Rabu, 16 November 2011

Kau

Sebuah puisi yang saya tulis tepat pada tanggal 10 November 2011, yang baru ini berkesempatan untuk mempublikasi.

Kau,,
Sosok  asing yang tak pernah kulihat ayunan tanganmu
dan tak pernah ku jabat tanganmu
Kau,,
Tak pernah kulihat tetes air matamu serta peluhmu saat kau angkat senjatamu
Tak pernah kulihat betapa geram wajahmu saat berdiri didepan musuhmu
Kau,,
Ku hanya bisa melihat sketsa wajahmu di dinding dinding kelasku
Kulihat engkau berdiri tegap dengan mata garangmu
Kau,,
Tak banyak orang menyadari betapa berat langkahmu
Ketika genderang perang mulai berkumandang
Kau masih teriakkan kata merdeka
Ketika darah mengucur deras dari sekujur tubuhmu
Hingga kian lama tubuhmu kian melemah
Dan tak lagi terdengar desah nafas terengah dari  jasadmu
Kau,,
Kau tidur dalam keabadian tanpa batas
Sebagai pahlawan yang tak di kenal
Karena gugur saat berjuang tanpa pamrih
Membela bangsa dan negara
Menjadi satu dalam pusara TANPA NAMA.

Rabu, 09 November 2011

Sajak Perkenalan

Mengenalmu disaat ku kehilangan itu indah
Menyapa namamu disaat kita bertemu itu juga indah
Berjabat tangan denganmu dan mendengar suaramu itu tak kalah indah

Bersamamu kulupakan segala pahit yang kumiliki
Mencoba hapus air mataku dengan segenap senyum yang kau beri
Kau, ku ucap terima kasih atas bahagia ini
Kau bukan istimewa
Namun kau bukan sederhana
Tak ingin ada benci, tak ingin ada cinta
Aku ingin berjalan denganmu seperti biasa
Agar takkan pernah ada lagi cerita duka diantara kita

Sabtu, 05 November 2011

Melodi Pagi

Maha suci engkau yang menyemburkan bilur bilur embun di dedaunan
Maha suci engkau yang memekarkan kuntum kuntum bunga
merekah, merona, dan keelokannya membuat dunia ini berwarna
Maha adil engkau yang menerbitkan matahari dan rembulan secara bergantian
Maha kasih engkau yang memberi naungan bagi setiap makhluk ditanah ini
Maha besar engkau yang mengalirkan tetes tetes hujan ini hingga ke samudra
Maha kuasa engkau yang menggenggam semua yang aku ketahui ini hanya dengan 1 jari

Kulantunkan salam indah ini untukmu yang setia menemani tiap waktuku
Menyeimbangkan sendi sendi tulangku
Syukurku mengalun lirih seiring hembus nafasku dan diantara celah namamu

Kau satu, megah, indah, kuat, dan segalanya
Aku milikmu, dan untukmu aku disini
Ingin selalu berdampingan denganmu, bagai daun dan tangkainya

Simpang Tiga

Simpang tiga bercerita
Disinilah kupertemukan kedua insan yang tlah lama berpisah

Simpang tiga bercerita
Disinilah kuluapkan rindu yang tak mampu lagi terbendung asa

Simpang tiga bercerita
Disinilah aku kembali menatap wajah yang dulu selalu kuperhatikan kesayuannya

Simpang tiga menyimpan gundah
Menguak kembali kisah yang telah terkubur sekian lama

Simpang tiga menyimpan resah
Hancurkan sejuta harap yang telah kupendam dalam

Simpang tiga menyimpan derita
Pedihnya perpisahan yang menyayat makin dalam telah terulang

Simpang tiga tempat kami berpisah
Saling berterima kasih dan meyakinkan satu sama lain
Meski keyakinan itu tererosi oleh garangnya badai amarah diantara kita

Simpang tiga, disanalah air mataku luluh di telapak tanganmu.

Selasa, 18 Oktober 2011

CINTAKU PADAMU

Aku tak pernah imgin mencintaimu dengan sederhana
Sebagaimana api yang tak sempat berkata-kata pada kayu
Yang menjadikannya abu

Aku hanya ingin mencintaimu dengan istimewa
Sebagaimana detail eiffel yang saling bertumpu
Menyatukan harap mereka
Dan tak pernah bisa kehilangan setitik saja dari mereka

Karena kau adalah hal terindah dalam jiwaku
Mengalunkan melodi indah mengukir setiap inci relungku
Menguatkan susunan rangkaku
Dan mengalirkan setiap butir darahku
Yang mampu membawaku menuju singgasana cinta kita

Minggu, 16 Oktober 2011

LUKA

Tuhan,
hati ini terluka..
Terluka atas dendam yang tak pernah nyata
Akan segala janji yang hanya dusta

Tuhan,
Jiwa ini telah hampa
Tak lagi ada rasa serta asa
Yang ada hanyalah luka berbalur dosa yang pernah ada
Berpeluk erat dalam derita tak pasti
Dan hanya mungkin terjadi