Ingatkah anda tentang sosok ilmuwan seperti Einstein, Newton, Phytagoras dan kawan-kawannya??
Ilmuwan diatas sering kita jumpai semasa di bangku sekolah saat mengerjakan soal-soal berbau alam. seperti Einstein dengan rumus abadinya E = MC2. Dan kisah Newton dengan hukum gravitasinya.
Akhir-akhir ini dunia dihebohkan dengan penelitian Dean Keith Simonton, profesor psikologi dari University of California yang menyatakan dunia tidak akan mampu lagi memproduksi orang-orang genius kedepan akibat manusia telah menemukan ide-ide dasar yang membuat kehidupan berjalan hingga detik ini.
Penemuan yang ada di era saat ini juga merupakan hanya penambahan formula tertentu atau merupakan kelanjutan dari karya kaum genius terdahulu. Artinya, bukan muncul ide yang baru tapi melanjutkan ide yang lama.
Benar atau Salah penelitian di atas mari kita tengok diri kita sendiri, kontribusi apakah yang telah kita berikan pada dunia, dan apakah benar genius adalah suatu kemustahilan kedepannya adalah sebuah misteri yang semestinya kita pecahkan selaku generasi penerus atau manusia penerus dari sang genius di atas.
So, Semangat... Life = Think
Kamis, 21 Februari 2013
Film Jadi Nyata
Pernahkah muncul pertanyaan dalam diri kita mengenai tindak-tindak kriminal yang baru-baru ini makin marak dilakukan baik oleh orang dewasa maupun anak-anak sekalipun. Sempat terlintas pertanyaan mengapa mereka begitu tega melakukannya seakan tak punya hati nurani sebagai manusia? dan juga apa yang menjadikan mereka berbuat demikian?
Sebagai referensi coba kita tengok berbagai kasus kriminal yang baru-baru ini terjadi. Referensi pertama adalah kasus pembunuhan seorang bocah berusia 3,5 tahun di Surabaya oleh tetangganya sendiri. Setelah diinterogasi, tersangka menyatakan rasa dendamnya pada ayah bocah tersebut yang selalu mengejeknya. Sehingga dendam tersebut terlampiaskan pada bocah tersebut. Tersangka membunuh dengan cara membanting bocah tersebut hingga tewas. Tak sampai di situ, aksi tersangka selanjutnya adalah melumuri mayat bocah tersebut dengan semen sehingga menjadi patung. Sungguh tragis nasib yang dialami bocah ini.
Kasus selanjutnya adalah aksi pembunuhan seorang ayah pada anak kandung dan kekasih si anak. Pelaku selanjutnya membuang jasad anaknya ke sungai dan untuk menghilangkan jejak, jasad kekasih korban tersebut di cor di lantai kamarnya.
kedua referensi kasus di atas hampir sama bukan?
korban pembunuhannya sama-sama di semen sodara-sodara!!
selanjutnya, masih ingatkah anda dengan film yang tayang beberapa tahun lalu berjudul "Hantu P***** Ind**" yang dalam film tersebut mengisahkan tentang pembunuhan yang menjadikan korbannya patung.
Sedikit mencoba menguak misteri pertanyaan di awal tadi mengenai apa yang menjadikan tindak kriminal pembunuhan dengan cara tersebut?.
hayo kenapa ya?
film adalah salah satu tontonan yang banyak di gemari masyarakat berbagai kalangan baik sebagai hiburan maupun suatu kebutuhan tersendiri. Salah satu akibat dari penayangan film yang mudah dijumpai adalah munculnya mode-mode baru di kalangan muda maupun berbagai respons masyarakat selaku konsumen film terhadap aksi protagonis maupun antagonis aktornya. Tak ingin memperluas pembahasan dengan menyebutkan dampak-dampak tersebut, melainkan hanya memberikan bukti bahwa film dapat memengaruhi emosi penontonnya.
Dengan studi kasus di atas, apakah mungkin penayangan film mampu memberikan ide kreatif tersangka pembunuhan dalam memperlakukan korbannya?
jawabannya ya bisa saja atau bisa juga tidak.
karena kita tengok tahun-tahun lalu yang bahkan jarang sekali ada kasus sama seperti di atas.
Peran Lembaga Sensor Film pun mesti dipertegas lagi guna meminimalisir kemungkinan tersebut.
Akhirnya, semua kesimpulan kembali ke diri kita masing-masing yang diharapkan menjadi konsumen cerdas yang mampu mengendalikan emosinya. Bukan malah jadi korban iklan, apalagi korban film. Kreatif adalah sifat yang sangat positif, namun kreatif bisa jadi hal negatif dan bomerang bagi diri sendiri jika digunakan untuk tindak yang negatif pula.
So, Think first :)
Sebagai referensi coba kita tengok berbagai kasus kriminal yang baru-baru ini terjadi. Referensi pertama adalah kasus pembunuhan seorang bocah berusia 3,5 tahun di Surabaya oleh tetangganya sendiri. Setelah diinterogasi, tersangka menyatakan rasa dendamnya pada ayah bocah tersebut yang selalu mengejeknya. Sehingga dendam tersebut terlampiaskan pada bocah tersebut. Tersangka membunuh dengan cara membanting bocah tersebut hingga tewas. Tak sampai di situ, aksi tersangka selanjutnya adalah melumuri mayat bocah tersebut dengan semen sehingga menjadi patung. Sungguh tragis nasib yang dialami bocah ini.
Kasus selanjutnya adalah aksi pembunuhan seorang ayah pada anak kandung dan kekasih si anak. Pelaku selanjutnya membuang jasad anaknya ke sungai dan untuk menghilangkan jejak, jasad kekasih korban tersebut di cor di lantai kamarnya.
kedua referensi kasus di atas hampir sama bukan?
korban pembunuhannya sama-sama di semen sodara-sodara!!
selanjutnya, masih ingatkah anda dengan film yang tayang beberapa tahun lalu berjudul "Hantu P***** Ind**" yang dalam film tersebut mengisahkan tentang pembunuhan yang menjadikan korbannya patung.
Sedikit mencoba menguak misteri pertanyaan di awal tadi mengenai apa yang menjadikan tindak kriminal pembunuhan dengan cara tersebut?.
hayo kenapa ya?
film adalah salah satu tontonan yang banyak di gemari masyarakat berbagai kalangan baik sebagai hiburan maupun suatu kebutuhan tersendiri. Salah satu akibat dari penayangan film yang mudah dijumpai adalah munculnya mode-mode baru di kalangan muda maupun berbagai respons masyarakat selaku konsumen film terhadap aksi protagonis maupun antagonis aktornya. Tak ingin memperluas pembahasan dengan menyebutkan dampak-dampak tersebut, melainkan hanya memberikan bukti bahwa film dapat memengaruhi emosi penontonnya.
Dengan studi kasus di atas, apakah mungkin penayangan film mampu memberikan ide kreatif tersangka pembunuhan dalam memperlakukan korbannya?
jawabannya ya bisa saja atau bisa juga tidak.
karena kita tengok tahun-tahun lalu yang bahkan jarang sekali ada kasus sama seperti di atas.
Peran Lembaga Sensor Film pun mesti dipertegas lagi guna meminimalisir kemungkinan tersebut.
Akhirnya, semua kesimpulan kembali ke diri kita masing-masing yang diharapkan menjadi konsumen cerdas yang mampu mengendalikan emosinya. Bukan malah jadi korban iklan, apalagi korban film. Kreatif adalah sifat yang sangat positif, namun kreatif bisa jadi hal negatif dan bomerang bagi diri sendiri jika digunakan untuk tindak yang negatif pula.
So, Think first :)
Kamis, 20 Desember 2012
KENALI OBESITAS
Obesitas adalah
suatu penyakit kelebihan berat badan akibat timbunan lemak berlebih. Hal ini
dapat terjadi karena jumlah kalori yang masuk melalui makanan lebih banyak
daripada kalori yang dibakar. Obesitas bisa menyerang anak-anak maupun dewasa.
Wanita
memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi daripada
pria karena wanita
memiliki lemak tubuh yang lebih banyak
daripada pria. Selain itu, wanita
setelah menikah yang cenderung akan bertambah berat
badannya karena pemakaian alat
kontrasepsi hormonal seperti
pil, suntik dan lainnya. Wanita juga
cenderung memiliki kadar aktivitas yang lebih rendah daripada
laki-laki, sehingga resiko semakin besar.
Pada abad ke-19
hingga awal abad ke-20 obesitas dianggap sebagai lambang kemakmuran, kesuksesan
finansial,serta lambang kesehatan. Jika seseorang memiliki kemampuan ekonomi
tinggi maka ia memiliki kebebasan untuk membeli pangan dengan kuantitas dan
kualitas yang lebih baik, sehingga nilai pendapatan keluarga berpengaruh pada
pola konsumsi. Paradigma masyarakat pada awalnya sehat sama dengan gemuk,
karena orang gemuk itu tanda kesuburan dan tidak rentan dari penyakit.
Senin, 10 September 2012
Semua Harus Aku
Aku berkata padamu
Jadilah engkau sejadinya aku
Jadilah engkau sejadinya saya
Jadilah engkau sejadinya ana
Dan lagi aku berkata
Sejadi-jadinya engkau harusnya aku
Sejadi-jadinya engkau harusnya saya
Sejadi-jadinya engkau harusnya ana
Siapa engkau? Aku..!
Siapa engkau? Saya..!
Siapa engkau? Ana..!
Dunia ini, Kursi tertinggi yang aku miliki
Singgasana manusia berjuntai lembah derita
Merajai raja, bersenjatakan paksa
Sudi engkau budak kiranya tunduk tertunduk
Bagai bisu tapi tak bisu
Jadilah engkau sejadinya aku
Jadilah engkau sejadinya saya
Jadilah engkau sejadinya ana
Dan lagi aku berkata
Sejadi-jadinya engkau harusnya aku
Sejadi-jadinya engkau harusnya saya
Sejadi-jadinya engkau harusnya ana
Siapa engkau? Aku..!
Siapa engkau? Saya..!
Siapa engkau? Ana..!
Dunia ini, Kursi tertinggi yang aku miliki
Singgasana manusia berjuntai lembah derita
Merajai raja, bersenjatakan paksa
Sudi engkau budak kiranya tunduk tertunduk
Bagai bisu tapi tak bisu
Rabu, 02 Mei 2012
Tragedi Malam Ini
Mataku mulai tertuju lesu ditengah langit malam di akhir April tahun ini. Aku tak berniat mencari apapun dipekatnya awan hitam di atas sana. Aku hanya ingin melihat kesetiaan bulan yang selalu temani bintang-bintang seakan mengorbit angkasa beriringan. Dari detik ke detik kujilati pekatnya malam kali ini seakan menaikkan suhu tubuhku sesudah hujan sore tadi. Aku heran, mengapa bulan tak pernah bosan berada disamping bintang? mengapa bintang rela berbagi hati dengan bintang yang selainnya? mungkin sering kudapati kisah seperti ini dan banyak orang bilang ini adalah "Poligami". Yah, benarkah bulan telah berpoligami dengan bintang-bintang? Jika iya adalah jawabnya, yang jelas aku tak pernah tau bintang mana yang mampu menarik hati bulan pertama kalinya. Aku hanya mampu melihat keharmonisan di antara mereka.Dan jika tidak, mungkin anda bisa mencari tau sendiri apa sebabnya.
Ah, aku ini berbicara apa. Aku seakan tak pernah menyadari bahwa khayalanku begitu menerawang jauh hingga mengabstraksikan kehidupan benda mati (asteroid dkk) seakan memiliki kehidupan sama sepertiku. Namun, yang jelas aku hanya terdiam dengan kemelut yang meletup-letup di penjuru otakku. Ekspresiku kali ini nyaris seperti detektif muda yang sedang menginvestigasi kasus-kasus besarnya. Kubuka mataku lebar-lebar, kuperdengarkan telingaku pada segala kesunyian di malam ini.
Wiiing wiiing wiiing,, PLAK!! Seekor nyamuk tewas tragis di telapak tanganku setelah hinggap di hidung mungilku ini. Pukulan ini seakan mengajakku kembali berpikir tentang aku, bintang, dan bulan malam ini. Berbicara tentang bulan dan keahliannya berlaku adil terhadap bintang-bintang. Tuhan menciptakan segala di dunia ini penuh dengan keharmonisan. Kurasa, dialah arsitek terbaik sepanjang kehidupan berjalan. Ia menggenggam semua yang aku ketahui hanya dengan satu jari.
Ah, aku ini berbicara apa. Aku seakan tak pernah menyadari bahwa khayalanku begitu menerawang jauh hingga mengabstraksikan kehidupan benda mati (asteroid dkk) seakan memiliki kehidupan sama sepertiku. Namun, yang jelas aku hanya terdiam dengan kemelut yang meletup-letup di penjuru otakku. Ekspresiku kali ini nyaris seperti detektif muda yang sedang menginvestigasi kasus-kasus besarnya. Kubuka mataku lebar-lebar, kuperdengarkan telingaku pada segala kesunyian di malam ini.
Wiiing wiiing wiiing,, PLAK!! Seekor nyamuk tewas tragis di telapak tanganku setelah hinggap di hidung mungilku ini. Pukulan ini seakan mengajakku kembali berpikir tentang aku, bintang, dan bulan malam ini. Berbicara tentang bulan dan keahliannya berlaku adil terhadap bintang-bintang. Tuhan menciptakan segala di dunia ini penuh dengan keharmonisan. Kurasa, dialah arsitek terbaik sepanjang kehidupan berjalan. Ia menggenggam semua yang aku ketahui hanya dengan satu jari.
Minggu, 01 April 2012
Mati bisu
Aku terjebak dalam gerombolan jiwa-jiwa yang terbungkam
Mayat-mayat penasaran hidup dalam dendam
Menagih janji yang kian lama didustai
Dibawah angsana nyinyir nyanyian manis kudengar
Meninabobokan mayat-mayat hidup
Tidur dalam pesta pora dansa
Menari menyanyi diatas riuh hijau angsana
Mayat-mayat penasaran hidup dalam dendam
Menagih janji yang kian lama didustai
Dibawah angsana nyinyir nyanyian manis kudengar
Meninabobokan mayat-mayat hidup
Tidur dalam pesta pora dansa
Menari menyanyi diatas riuh hijau angsana
Jumat, 09 Maret 2012
Penantian Percuma
Lihatlah kesana kawan
Wajah pucat yang kian lama menjadi nanar
Lihatlah!
Pandangannya yang mengacuh jauh ke depan
Kabut tebal yang tak sedikitpun bercelah
Lihatlah kawan!
Dalam duduknya ia termangu panjang
Menanti bilur kabut menghilang
Sekali waktu ia berkhayal tentang indahnya taman berkabut
Yang tak sekali pula ia lihat dimatanya
Lihatlah kawan!
Ia duduk hingga tua
Menanti khayalan tanpa rangkaian penggapaian
Membatu bersama usangnya bayangan yang makin berkabut
Tidakkah ia tau nan sadar
Di sisi kiri dan kanannya
Telah hadir kurcaci kurcaci kecil
Yang saling menaiki satu sama lain
Mencoba mencari celah kabut panjang
Hendakkah ia menoleh kawan?
Apakah ia malu dengan keriput yang kian lama menampakkan tuanya
Tubuhnya yang gagah tegap termakan hembus waktu
Dan ia hanya terduduk lesu
Kurcaci itu lebih pintar?
Apakah benar yang gagah terkalahkan olehnya?
Hingga kini,
Ia setia menua bersama khayalan senjanya.
Wajah pucat yang kian lama menjadi nanar
Lihatlah!
Pandangannya yang mengacuh jauh ke depan
Kabut tebal yang tak sedikitpun bercelah
Lihatlah kawan!
Dalam duduknya ia termangu panjang
Menanti bilur kabut menghilang
Sekali waktu ia berkhayal tentang indahnya taman berkabut
Yang tak sekali pula ia lihat dimatanya
Lihatlah kawan!
Ia duduk hingga tua
Menanti khayalan tanpa rangkaian penggapaian
Membatu bersama usangnya bayangan yang makin berkabut
Tidakkah ia tau nan sadar
Di sisi kiri dan kanannya
Telah hadir kurcaci kurcaci kecil
Yang saling menaiki satu sama lain
Mencoba mencari celah kabut panjang
Hendakkah ia menoleh kawan?
Apakah ia malu dengan keriput yang kian lama menampakkan tuanya
Tubuhnya yang gagah tegap termakan hembus waktu
Dan ia hanya terduduk lesu
Kurcaci itu lebih pintar?
Apakah benar yang gagah terkalahkan olehnya?
Hingga kini,
Ia setia menua bersama khayalan senjanya.
Rabu, 01 Februari 2012
LuKeLuh
Piluku berkeluh
Keluhku tak berpeluh
Keluhku pilu
Lupa tak peluh
Lukaku pilu
Keluh tak laku
Kaku Kaku
Luka Kaku piluku
Suka Suka
Tak Suka keluh
Duka Duka
Dukaku peluh
Kontemporer permainan bunyi..
Keluhku tak berpeluh
Keluhku pilu
Lupa tak peluh
Lukaku pilu
Keluh tak laku
Kaku Kaku
Luka Kaku piluku
Suka Suka
Tak Suka keluh
Duka Duka
Dukaku peluh
Kontemporer permainan bunyi..
Minggu, 08 Januari 2012
Senyum Merah Putih
Liburan panjang yang segera berakhir ini tiba-tiba mengingatkanku pada masa ketika aku masih setia dengan seragam merah putihku. Tak tahu mengapa aku dengan tak sengaja mengingatnya, mungkin karena terlalu banyak waktu senggang saat liburan menghampiriku. Yah untuk mengisi waktu luang ini tak ada salahnya jika saya menuangkan sedikit kisah merah putih saya.
Saya di masa merah putih sangatlah berbeda dengan di masa abu-abu saat ini. Jika saat ini saya lebih dikenal dengan sosok akhwat yang tak banyak bicara dengan orang lain jika tak ada perlu dan tak pernah mencoba untuk berbuat konyol seperti masa SD saya.
Saya di masa merah putih sangatlah berbeda dengan di masa abu-abu saat ini. Jika saat ini saya lebih dikenal dengan sosok akhwat yang tak banyak bicara dengan orang lain jika tak ada perlu dan tak pernah mencoba untuk berbuat konyol seperti masa SD saya.
Sabtu, 17 Desember 2011
Lima Ribu
Ehm,, Bingung mau ngawalin nulisnya bagaimana. Bukan niat alay, bukan niat galau, bukan niat mencari uang,, glodak.. hehe.. Hanya sekadar meluapkan emosi sesaat yang muncul ketika malam hari saya melewati sebuah jalan yang terkenal dengan prostitusinya. sedikit cerita, saya toleh kanan kiri sepanjang jalan saya sambil perlahan menjalankan motor butut saya. Karena saya terlalu keasyikan tolah toleh,, wah hampir saja saya menabrak mbak tante pakai rok mini dan baju minim yang mau nyebrang. Huft untung saja..
Dari kejadian itu, tiba-tiba saya jadi berabstraksi yang agak sedikit liar sih, tapi ini sudah bukan jadi rahasia umum kan. Umur saya juga sudah 17 tahun ke atas. Jadi,, y okelaah. Tapi ekspresinya jangan terlalu liar ya.. Bisa jadi gila nanti..
Oke langsung saja saya berekspresi
Dari kejadian itu, tiba-tiba saya jadi berabstraksi yang agak sedikit liar sih, tapi ini sudah bukan jadi rahasia umum kan. Umur saya juga sudah 17 tahun ke atas. Jadi,, y okelaah. Tapi ekspresinya jangan terlalu liar ya.. Bisa jadi gila nanti..
Oke langsung saja saya berekspresi
Kamis, 15 Desember 2011
Danau Lumpur
Danau itu seperti lumpur dari kejauhan
Hanya warna gelap yang memancar diatas air mati
Tak kulihat lagi warna yang dulu pernah kusaksikan
Hanya ular, kerbau, kambing yang berlarian di tepinya
Diantara kegelapan hutan, malam dan mata yang rabun
Aku melihatmu dari jalan tol yang melayang diatasmu
Seperti sebuah mimpi yang akan hilang sebentar lagi
Oleh gelap total tanpa lampu-lampu dan kunang-kunang
Apakah itu sunyi yang meninggalkan luka tanyamu
Sambil kau memeluk lumpur dihatiku
Di tengah danau hanya badai api yang berpusar
Entah darimana datangnya
Dari bumi atau dari angkasa
Bersama ledakan-ledakan waktu
Tak perlu kau tafsirkan lagi
Kita hanya bisa mengingat masa lalu
Tanpa berani membenahi
Karena kenangan adalah nyeri, duri dan karma
Yang akan terbalas nanti setelah janji ditepati
Ketika kau duduk di tepi jurang
Angin senja yang jahat menjambakmu
Kau tercebur dalam danau
Tubuhmu basah dan kotor
Dengan apa harus kau sucikan lagi
Lumpur lalu memelukmu
Dan kau menciumnya
S.Yoga
Hanya warna gelap yang memancar diatas air mati
Tak kulihat lagi warna yang dulu pernah kusaksikan
Hanya ular, kerbau, kambing yang berlarian di tepinya
Diantara kegelapan hutan, malam dan mata yang rabun
Aku melihatmu dari jalan tol yang melayang diatasmu
Seperti sebuah mimpi yang akan hilang sebentar lagi
Oleh gelap total tanpa lampu-lampu dan kunang-kunang
Apakah itu sunyi yang meninggalkan luka tanyamu
Sambil kau memeluk lumpur dihatiku
Di tengah danau hanya badai api yang berpusar
Entah darimana datangnya
Dari bumi atau dari angkasa
Bersama ledakan-ledakan waktu
Tak perlu kau tafsirkan lagi
Kita hanya bisa mengingat masa lalu
Tanpa berani membenahi
Karena kenangan adalah nyeri, duri dan karma
Yang akan terbalas nanti setelah janji ditepati
Ketika kau duduk di tepi jurang
Angin senja yang jahat menjambakmu
Kau tercebur dalam danau
Tubuhmu basah dan kotor
Dengan apa harus kau sucikan lagi
Lumpur lalu memelukmu
Dan kau menciumnya
S.Yoga
Jumat, 09 Desember 2011
Drama Air Tanah
Air,
Kau hujam tubuh ringkih ini dengan tetes kesegaranmu
Kau masuki celahku dan kau diam di sana
Menyejukkanku dari matahari yang lama buatku hampir mati
Air,
Kau datang bagai nyanyian surgawi
Dengan melodi rintikmu
Seraya mengajakku menari-nari
Menyambut hari baru penuh kesegaran
Dan berpaling dari kesengsaraan
Air,
Tapi tak lama lagi kau akan pergi
Meninggalkan lantunan melodi
Dan tarian-tarian sunyi
Air,
Kau terhasut mentari
Kau memercayainya hingga kau tinggal tubuh ini
Air,
Selamanya aku hanya tempat singgahmu
Menuntunmu menuju dermagamu dan
Aku hanya mampu mendekap insan dalam
Keabadian tanpamu.
Tanah pada Air
Sajak kecil di 23:44 WIB
Kau hujam tubuh ringkih ini dengan tetes kesegaranmu
Kau masuki celahku dan kau diam di sana
Menyejukkanku dari matahari yang lama buatku hampir mati
Air,
Kau datang bagai nyanyian surgawi
Dengan melodi rintikmu
Seraya mengajakku menari-nari
Menyambut hari baru penuh kesegaran
Dan berpaling dari kesengsaraan
Air,
Tapi tak lama lagi kau akan pergi
Meninggalkan lantunan melodi
Dan tarian-tarian sunyi
Air,
Kau terhasut mentari
Kau memercayainya hingga kau tinggal tubuh ini
Air,
Selamanya aku hanya tempat singgahmu
Menuntunmu menuju dermagamu dan
Aku hanya mampu mendekap insan dalam
Keabadian tanpamu.
Tanah pada Air
Sajak kecil di 23:44 WIB
Rabu, 16 November 2011
Kau
Sebuah puisi yang saya tulis tepat pada tanggal 10 November 2011, yang baru ini berkesempatan untuk mempublikasi.
Kau,,
Sosok asing yang tak pernah kulihat ayunan tanganmu
dan tak pernah ku jabat tanganmu
Kau,,
Tak pernah kulihat tetes air matamu serta peluhmu saat kau angkat senjatamu
Tak pernah kulihat betapa geram wajahmu saat berdiri didepan musuhmu
Kau,,
Ku hanya bisa melihat sketsa wajahmu di dinding dinding kelasku
Kulihat engkau berdiri tegap dengan mata garangmu
Kau,,
Tak banyak orang menyadari betapa berat langkahmu
Ketika genderang perang mulai berkumandang
Kau masih teriakkan kata merdeka
Ketika darah mengucur deras dari sekujur tubuhmu
Hingga kian lama tubuhmu kian melemah
Dan tak lagi terdengar desah nafas terengah dari jasadmu
Kau,,
Kau tidur dalam keabadian tanpa batas
Sebagai pahlawan yang tak di kenal
Karena gugur saat berjuang tanpa pamrih
Membela bangsa dan negara
Menjadi satu dalam pusara TANPA NAMA.
Kau,,
Sosok asing yang tak pernah kulihat ayunan tanganmu
dan tak pernah ku jabat tanganmu
Kau,,
Tak pernah kulihat tetes air matamu serta peluhmu saat kau angkat senjatamu
Tak pernah kulihat betapa geram wajahmu saat berdiri didepan musuhmu
Kau,,
Ku hanya bisa melihat sketsa wajahmu di dinding dinding kelasku
Kulihat engkau berdiri tegap dengan mata garangmu
Kau,,
Tak banyak orang menyadari betapa berat langkahmu
Ketika genderang perang mulai berkumandang
Kau masih teriakkan kata merdeka
Ketika darah mengucur deras dari sekujur tubuhmu
Hingga kian lama tubuhmu kian melemah
Dan tak lagi terdengar desah nafas terengah dari jasadmu
Kau,,
Kau tidur dalam keabadian tanpa batas
Sebagai pahlawan yang tak di kenal
Karena gugur saat berjuang tanpa pamrih
Membela bangsa dan negara
Menjadi satu dalam pusara TANPA NAMA.
Rabu, 09 November 2011
Sajak Perkenalan
Mengenalmu disaat ku kehilangan itu indah
Menyapa namamu disaat kita bertemu itu juga indah
Berjabat tangan denganmu dan mendengar suaramu itu tak kalah indah
Bersamamu kulupakan segala pahit yang kumiliki
Mencoba hapus air mataku dengan segenap senyum yang kau beri
Kau, ku ucap terima kasih atas bahagia ini
Kau bukan istimewa
Namun kau bukan sederhana
Tak ingin ada benci, tak ingin ada cinta
Aku ingin berjalan denganmu seperti biasa
Agar takkan pernah ada lagi cerita duka diantara kita
Menyapa namamu disaat kita bertemu itu juga indah
Berjabat tangan denganmu dan mendengar suaramu itu tak kalah indah
Bersamamu kulupakan segala pahit yang kumiliki
Mencoba hapus air mataku dengan segenap senyum yang kau beri
Kau, ku ucap terima kasih atas bahagia ini
Kau bukan istimewa
Namun kau bukan sederhana
Tak ingin ada benci, tak ingin ada cinta
Aku ingin berjalan denganmu seperti biasa
Agar takkan pernah ada lagi cerita duka diantara kita
Sabtu, 05 November 2011
Melodi Pagi
Maha suci engkau yang menyemburkan bilur bilur embun di dedaunan
Maha suci engkau yang memekarkan kuntum kuntum bunga
merekah, merona, dan keelokannya membuat dunia ini berwarna
Maha adil engkau yang menerbitkan matahari dan rembulan secara bergantian
Maha kasih engkau yang memberi naungan bagi setiap makhluk ditanah ini
Maha besar engkau yang mengalirkan tetes tetes hujan ini hingga ke samudra
Maha kuasa engkau yang menggenggam semua yang aku ketahui ini hanya dengan 1 jari
Kulantunkan salam indah ini untukmu yang setia menemani tiap waktuku
Menyeimbangkan sendi sendi tulangku
Syukurku mengalun lirih seiring hembus nafasku dan diantara celah namamu
Kau satu, megah, indah, kuat, dan segalanya
Aku milikmu, dan untukmu aku disini
Ingin selalu berdampingan denganmu, bagai daun dan tangkainya
Maha suci engkau yang memekarkan kuntum kuntum bunga
merekah, merona, dan keelokannya membuat dunia ini berwarna
Maha adil engkau yang menerbitkan matahari dan rembulan secara bergantian
Maha kasih engkau yang memberi naungan bagi setiap makhluk ditanah ini
Maha besar engkau yang mengalirkan tetes tetes hujan ini hingga ke samudra
Maha kuasa engkau yang menggenggam semua yang aku ketahui ini hanya dengan 1 jari
Kulantunkan salam indah ini untukmu yang setia menemani tiap waktuku
Menyeimbangkan sendi sendi tulangku
Syukurku mengalun lirih seiring hembus nafasku dan diantara celah namamu
Kau satu, megah, indah, kuat, dan segalanya
Aku milikmu, dan untukmu aku disini
Ingin selalu berdampingan denganmu, bagai daun dan tangkainya
Simpang Tiga
Simpang tiga bercerita
Disinilah kupertemukan kedua insan yang tlah lama berpisah
Simpang tiga bercerita
Disinilah kuluapkan rindu yang tak mampu lagi terbendung asa
Simpang tiga bercerita
Disinilah aku kembali menatap wajah yang dulu selalu kuperhatikan kesayuannya
Simpang tiga menyimpan gundah
Menguak kembali kisah yang telah terkubur sekian lama
Simpang tiga menyimpan resah
Hancurkan sejuta harap yang telah kupendam dalam
Simpang tiga menyimpan derita
Pedihnya perpisahan yang menyayat makin dalam telah terulang
Simpang tiga tempat kami berpisah
Saling berterima kasih dan meyakinkan satu sama lain
Meski keyakinan itu tererosi oleh garangnya badai amarah diantara kita
Simpang tiga, disanalah air mataku luluh di telapak tanganmu.
Disinilah kupertemukan kedua insan yang tlah lama berpisah
Simpang tiga bercerita
Disinilah kuluapkan rindu yang tak mampu lagi terbendung asa
Simpang tiga bercerita
Disinilah aku kembali menatap wajah yang dulu selalu kuperhatikan kesayuannya
Simpang tiga menyimpan gundah
Menguak kembali kisah yang telah terkubur sekian lama
Simpang tiga menyimpan resah
Hancurkan sejuta harap yang telah kupendam dalam
Simpang tiga menyimpan derita
Pedihnya perpisahan yang menyayat makin dalam telah terulang
Simpang tiga tempat kami berpisah
Saling berterima kasih dan meyakinkan satu sama lain
Meski keyakinan itu tererosi oleh garangnya badai amarah diantara kita
Simpang tiga, disanalah air mataku luluh di telapak tanganmu.
Jumat, 04 November 2011
Sulitnya Mengorek Inspirasi
Rintik hujan memukulku bertubi saat ku berjalan sendiri tanpa tujuan yang pasti. Gemerlap bintang tak pernah lelah mengilaukan sinarnya yang senantiasa memantulkan percikan putih di korneaku. Tersadar sejenak udara malam ini begitu menusuk dihati saat kulihat bajuku yang basah karena tangis langit yang jatuh begitu bebasnya di hamparan tanah tempatku berdiri. Tak tau apa yang sedang kulakukan malam ini. Bibirku hanya mampu mengatup atas bawah menahan hawa dingin yang makin lama makin meraja.Kusibakkan sejenak lengan bajuku, kulihat arloji digitalku yang menunjukkan pukul 23.00 WIB. Ini sudah terlampau malam untuk seorang wanita yang menyusuri jalan hanya untuk meluapkan emosi,, kataku dalam hati.
Kuayunkan kakiku langkah demi langkah kembali menyusuri jalan yang tlah kulewati. Sepanjang jalan, kulihat kanan kiri yang begitu sepi tanpa seorang pun yang menampakkan wajahnya dimataku. Yang kudengar hanyalah melodi monotone kawanan jangkrik yang bersautan dengan si katak malam. Ku usir sepi ini dengan menyanyikan sebuah lagu melow dari sebuah band indonesia yang sangat aku kagumi syairnya.
Tuhan,, hingga detik ini tak satupun kata yang kudapati singgah di syaraf otakku.
Dan akhirnya langkah ini berakhir pada sebuah tangkai pintu rumahku yang begitu dingin akibat hawa sekitarnya. Mataku sudah lelah. Syaraf mataku mengirimkan sinyal sinyal ke otakku untuk mengeluarkan suatu cairan akibat rasa kantuk yang tak tertahan. Sedangkan, masih saja belum ada satu kata yang kudapat.
Selasa, 18 Oktober 2011
CINTAKU PADAMU
Aku tak pernah imgin mencintaimu dengan sederhana
Sebagaimana api yang tak sempat berkata-kata pada kayu
Yang menjadikannya abu
Aku hanya ingin mencintaimu dengan istimewa
Sebagaimana detail eiffel yang saling bertumpu
Menyatukan harap mereka
Dan tak pernah bisa kehilangan setitik saja dari mereka
Karena kau adalah hal terindah dalam jiwaku
Mengalunkan melodi indah mengukir setiap inci relungku
Menguatkan susunan rangkaku
Dan mengalirkan setiap butir darahku
Yang mampu membawaku menuju singgasana cinta kita
Sebagaimana api yang tak sempat berkata-kata pada kayu
Yang menjadikannya abu
Aku hanya ingin mencintaimu dengan istimewa
Sebagaimana detail eiffel yang saling bertumpu
Menyatukan harap mereka
Dan tak pernah bisa kehilangan setitik saja dari mereka
Karena kau adalah hal terindah dalam jiwaku
Mengalunkan melodi indah mengukir setiap inci relungku
Menguatkan susunan rangkaku
Dan mengalirkan setiap butir darahku
Yang mampu membawaku menuju singgasana cinta kita
Minggu, 16 Oktober 2011
LUKA
Tuhan,
hati ini terluka..
Terluka atas dendam yang tak pernah nyata
Akan segala janji yang hanya dusta
Tuhan,
Jiwa ini telah hampa
Tak lagi ada rasa serta asa
Yang ada hanyalah luka berbalur dosa yang pernah ada
Berpeluk erat dalam derita tak pasti
Dan hanya mungkin terjadi
hati ini terluka..
Terluka atas dendam yang tak pernah nyata
Akan segala janji yang hanya dusta
Tuhan,
Jiwa ini telah hampa
Tak lagi ada rasa serta asa
Yang ada hanyalah luka berbalur dosa yang pernah ada
Berpeluk erat dalam derita tak pasti
Dan hanya mungkin terjadi
BELAJAR VERSI SEKARANG
Ketika saya duduk sendirian dan mencoba merenungi keadaan yang saat ini saya hadapi, tiba-tiba muncul dibenak saya untuk sedikit berpikir panjang mengenai remaja jaman dulu dengan sekarang. Entah apa dan siapa yang benar dan yang salah dalam keadaan ini. Tentunya anda sekalian bisa melihat secara langsung mengenai lebarnya jarak perbedaan dari masa ke masa.
Seiring bergulirnya waktu semakin banyak saya jumpai realitas tindak kriminal yang banyak melibatkan manusia-manusia dibawah umur atau yang sering disebut remaja bahkan anak-anak yang tentunya mereka masih duduk dibangku sekolah. Mulai dari kasus miras, narkoba, gank motor, pemerkosaan, bahkan pembunuhan yang tak lain adalah membunuh orang tuanya sendiri. Banyaknya kenyataan tersebut membuat saya tak habis pikir, sebenarnya segala macam tetek bengek Moralitas mereka itu dari mana?? Rela sekali mereka bertekuk lutut pada arus kehidupan dunia ini?
Mungkin saya tidak bisa menghakimi dari satu sisi saja mengenai masalah ini, karena saya yakin masalah ini sudah mengakar dan begitu kompleks. Tapi jika ditabrakkan dengan kedudukan mereka yang masihlah pelajar yang pada hakekatnya adalah dekat sekali dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pembelajaran tentang moral, agama serta kenegaraan sangatlah kontras sekali dengan realitasnya.
Seiring bergulirnya waktu semakin banyak saya jumpai realitas tindak kriminal yang banyak melibatkan manusia-manusia dibawah umur atau yang sering disebut remaja bahkan anak-anak yang tentunya mereka masih duduk dibangku sekolah. Mulai dari kasus miras, narkoba, gank motor, pemerkosaan, bahkan pembunuhan yang tak lain adalah membunuh orang tuanya sendiri. Banyaknya kenyataan tersebut membuat saya tak habis pikir, sebenarnya segala macam tetek bengek Moralitas mereka itu dari mana?? Rela sekali mereka bertekuk lutut pada arus kehidupan dunia ini?
Mungkin saya tidak bisa menghakimi dari satu sisi saja mengenai masalah ini, karena saya yakin masalah ini sudah mengakar dan begitu kompleks. Tapi jika ditabrakkan dengan kedudukan mereka yang masihlah pelajar yang pada hakekatnya adalah dekat sekali dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pembelajaran tentang moral, agama serta kenegaraan sangatlah kontras sekali dengan realitasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)